Merayakan Keberagaman Indonesia
Artikel

Kilas Balik : Rayakan Keragaman Indonesia dalam Hari Film Nasional 2017

Babak baru perfilman Indonesia sudah dimulai. Hal tersebut seturut pernyataan Lasja F. Susatyo, Ketua Panitia Hari Film Nasional (HFN) 2017, bahwa perkembangan produksi film Indonesia semakin membaik. Landasannya adalah pusat produksi telah menyebar dan komunitas-komunitas pembuat film tumbuh pesat di hampir semua daerah. Hal itu membuat Lasja berharap banyak bermunculan film yang menarasikan keberagaman masyarakat Indonesia.

“Merayakan Keberagaman Indonesia” kemudian diusung menjadi tema HFN 2017. Dengan tema tersebut, perayaan ini dapat menjadi momentum untuk mengajak segenap komponen bangsa bersama-sama memaksimalkan film guna membangun dan mempertahankan budaya bangsa. Cara yang ditempuh melalui peningkatan produksi dan distribusi film-film keragaman Indonesia. 

Terdapat enam program utama pada HFN 2017, yaitu Satu Bulan Menonton Film Indonesia, Diskusi dan Penayangan Film, Workshop, FILARTC, dan Film Project. Semua program ini berlangsung dari 1 Maret hingga 1 April 2017. Malam puncak HFN 2017 yang jatuh pada 30 Maret 2017 diselenggarakan di kompleks Perum Perusahaan Film Negara.

“Perayaan HFN 2017 juga dimaksudkan untuk memperlihatkan pemerintah, pemangku kepentingan perfilman, dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung gerakan ini,” terang Lasja. Hal itu nampak dari terbentuknya “Gerakan Merayakan Keragaman Indonesia melalui Film”, yang diusung Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Pariwisata bersama segenap pelaku perfilman.

Melalui "Gerakan Merayakan Keragaman Indonesia Melalui Film" masyarakat diharapkan akan mendapatkan kembali pemahaman yang lebih baik mengenai ke-bhinneka tunggal ika-an Indonesia, sebagai modal penting menyelesaikan berbagai persoalan intoleransi dan ancaman perpecahan bangsa.

Muhadjir Effendi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menekankan tentang pentingnya literasi dan pendidikan penonton sejak dini. Hal ini demi terbentuknya budaya menonton dan penonton yang semakin terdidik. “Kita sangat ingin film kita bangkit dengan corak budaya kita, dengan keragaman, dengan banyaknya pelaku, dan insan perfilman semakin besar. Itu yang menjadi target,” terangnya.

Artikel Terkait