Merayakan Keberagaman Indonesia
Artikel

11 Tahun Festival Film Purbalingga Tanjleb Terus

“Masyarakat yang hidup di daerah terpencil pun mempunyai hak untuk mengakses film-film berkualitas,” –Bowo Leksono

Festival Film Purbalingga (FFP) merupakan program tahunan yang diprakasai langsung oleh Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga sejak tahun 2006. Festival ini, pada mulanya dikenal dengan Parade Film Purbalingga. Kemudian sempat mengubah nama menjadi Purbalingga Film Festival pada 2008-2009.  Namun pada 2010 hingga sekarang, masyarakat lebih mengenalnya dengan Festival Film Purbalingga (FFP).

Adapun yang menjadi perhatian dari festival ini tak lain hendak membangun kultur apresiasi dan persebaran pengetahuan film, khususnya pada masyarakat Banyumas Raya (Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara dan Banyumas) dan sekitarnya.  Terdapat dua program andalan yang cukup konsisten tiap tahunnya yakni Program Layar Tanjleb, Kompetisi Film Pelajar (Tingkat SMP dan SMA) dan Pemutaran Film Non Kompetisi. Selain ketiga itu, tentunya terdapat program-program pendukung lainnya, di antaranya diskusi, pameran, pentas seni, workshop film bagi pelajar, serta penghargaan film favorit penonton.


Dalam penyelanggaraannya, CLC bekerja sama dengan komunitas-komunitas film di tiap kabupaten. Selain itu RT/RW, Sekolah, Institusi Pendidikan, Karang Taruna setempat. Bahkan di tahun ini, CLC bekerja sama dengan Kemendikbud dan BEKRAF.

Menilik Sejarah, Bercampur Semangat

Bila menilik lebih jauh sejarahnya, geliat film pendek di Purbalingga telah terbentuk pada 2004. Film pendek tampaknya menjadi pilihan tepat setelah pasca-Reformasi karena teater seperti kehilangan giginya. Pemutaran film-film pendek di Jakarta memancing anak-anak muda Purbalingga memproduksi film di kampung halamannya. Oleh para pembuatnya, film-film ini diputar ke sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA di Purbalingga untuk diapresiasi. Antusiasme yang besar membuat sejumlah pegiat bersepakat membentuk komunitas bernama Cinema Lovers Community (CLC). Bila berbicara mengenai sejarah Festival Film Purbalingga, tentunya tidak dapat dilepaskan dari awal mula kelahiran CLC.

Walaupun sudah diselenggarakan 11 tahun lamanya, bukan berarti tidak ditemukannya kendala pada tiap penyelenggaraan FFP. Sebelum dicetuskannya layar tancep keliling, pemutaran film kerap diadakan di Gedung Serbaguna Pemkab Purbalingga. Namun itu semua tidak bertahan sampai bulan ketiga, karena adanya surat larangan dari Pemerintah Kabupaten. Alhasil untuk lebih memasyarakatkan film pendek, keberadaan program layar tancap keliling desa menjadi penting dan perlu. Karena pada dasarnya, masyarakat yang tinggal di kota dan di desa memiliki hak yang sama dalam mengakses tontonan film. Inilah cikal bakal Program Layar Tanjleb yang cukup ikonik di FFP hingga sekarang. 


Bukan hanya Pemkab saja, tetapi pihak-pihak lain seperti polisi dan kodim, satpol PP, hingga ormas-pun menemukan hal yang sama. Hal ini terjadi karena ketidakpahaman pihak-pihak ini terhadap apa yang dilakukan anak-anak muda dengan film dan festival film. Tampak adanya upaya dari pihak-pihak ini untuk mencari kelemahan pada konten film-film yang akan diputar. 

Sebut saja, pada FFP 2016 lalu – saat diputarnya film Pulau Buru: Tanah Air Beta karya Ruhung Nasution di di Aula Hotel Kencana Purbalingga. Pemutaran sempat didemo puluhan massa dari Organisasi Masyarakat Pemuda Pancasila Purbalingga. Dengan ketakutan terhadap potensi film ini yang mampu memicu ideologi yang tak diinginkan oleh ormas terkait. Alhasil, pihak penyelenggara menuruti harapan dari massa. 

Meskipun begitu, ini tidak membuat putus asa dan mematikan semangat pihak penyelenggara FFP. Tentunya berkat dukungan dan antusiasme anak muda dan masyarakat terhadap penyelenggaraan FFP itu sendiri. Festival ini yang kerap ditunggu-tunggu tiap tahunnya oleh masyarkat Banyumas Raya. Terdapat sejumlah hal dari festival film satu ini yang membuatnya unik dibanding dengan festival lain di daerah yang sama ataupun di daerah lain. Keunikan itu di antaranya adalah keberanian penyelenggara dalam mengasah kemampuan membuat film (filmmaking ) bagi pelajar setempat, menonton film bersama tetangga, publikasi event dengan toa di dalam mobil bak atau sepeda motor, serta pernah ada kompetisi video manten. Ada semangat dari penyelanggara untuk gerilya pada situasi dan kondisi apapun selama proses penyelenggaraan.

Upaya untuk mengasah kemampuan membuat film pada pengajar terlihat saat dibentuknya tema 1965 pada FFP 2016 lalu. Saat para pelajar menghadirkan konten naratif yang tak lepas dari tema tersebut, adanya hal-hal yang menarik yang ditawarkan. Salah seorang juri, Agustav Triono ketika itu mengatakan, “Kami juga melihat keberanian pelajar mengangkat persoalan politik nasional menjadi salah satu penanda perkembangan wacana film pelajar di Banyumas.” Film-film seperti Izinkan Saya Menikahinya, Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal! merupakan dua diantaranya. Belum lagi film-film pendek lainnya yang mempotret sisi sosial dan kebudayaan masyarakat Banyumas Raya.

Dukungan dari Pemerintah Pusat lambat laun mulai terbentuk akibat eksistensi yang dibentuk dari FFP sendiri beserta masyarakat Banyumas yang mendukungnya. Sebut saja, pada FFP tahun ke-6 (2012) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan dukungan. Hal ini sebagai bagian dari program Apresiasi Film Pendek Indonesia 2012. Selain itu, pada FFP 2017 ini – penyelanggara mendapat bantuan  resmi dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

FFP dapat dibilang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap keberlangsungan apresiasi dan pengetahuan sinema di Banyumas Raya dan sekitar. Bila mana pada 2007 ini semua merupakan apa yang dicita-citakan oleh penyelanggara, efek dari kontribusinya terasa saat festival ini sudah berlabuh selama 11 tahun lamanya. Terdapat sejumlah film pelajar yang dari segi konten naratif mampu memberikan keragaman wacana terhadap keberlangsungan film alternatif di Indonesia.

Artikel Terkait