Merayakan Keberagaman Indonesia
HFN 2017

Merapatkan Barisan Komunitas Film

Perfilman Indonesia tidak terbatas pada layar dan kursi bioskop. Nyatanya, perfilman Indonesia banyak bertumpu pada kerja-kerja komunitas, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari bioskop dan industri film, mulai dari Aceh hingga Papua. Masing-masing hidup dan bernafas dengan caranya sendiri, baik lewat produksi film, penayangan film untuk publik, penyelenggaraan festival, pembukaan ruang diskusi, lokakarya, laboratorium film independen, hingga kritik dan kajian.

Pada 2016 silam, lebih dari tiga ratus orang dari seratusan komunitas film dari berbagai belahan Indonesia berkumpul di Baturraden dalam rangka Temu Komunitas Film Indonesia (TKFI). Selama tiga hari mereka berjejaring dan berbagi bersama. TKFI 2016 terselenggara melalui sebuah jaringan kerja bersama, yang terdiri dari CLC Purbalingga, Jaringan Kerja Film Banyumas, Cinema Poetica, Boemboe, Serunya, dan Viddsee. Turut hadir sebagai mitra kerja adalah Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfilm).

TKFI di Baturraden sendiri merupakan lanjutan dari inisiatif serupa di Solo pada 2010. Jeda enam tahun antara temu komunitas itulah yang menjadi alasan kenapa TKFI di Baturraden lebih difokuskan pada pengumpulan data dan pengenalan kegiatan komunitas film terkini. Penyelenggaraan TKFI berikutnya, kemungkinan besar pada 2018, diharapkan akan mengusung agenda yang lebih strategis, khususnya dalam memadukan kerja-kerja komunitas dalam skema perfilman nasional. Perlu sekali diadakaan pembacaan yang lebih menyeluruh akan capaian dan tantangan komunitas film—kebutuhan ini yang hendak dijawab melalui Rapat Koordinasi Komunitas Film yang diselenggarakan Pusbangfilm pada 16-18 Maret 2017.

Bertempat di The Akmani Hotel, Jakarta Pusat, rapat koordinasi tersebut mengundang tiga puluh komunitas film dari berbagai daerah, dari Banda Aceh, Bandung, Purbalingga, Makassar, Banjarmasin, Palu, Makassar, Sumbawa, hingga Timika. Peserta rapat koordinasi merupakan komunitas-komunitas film yang panitia amati dan seleksi berdasarkan keaktifan mereka selama tiga tahun terakhir di bidang produksi, ekshibisi, serta apresiasi film. 

“Kita tidak bisa setengah-setengah dalam membaca perfilman nasional. Tahun lalu sempat diadakan TKFI di Baturraden, dan dari situ kita belajar banyak tentang komunitas film. Tahun ini Pusbangfilm memiliki sejumlah program untuk mendukung komunitas film, yang semuanya kami rumuskan berdasarkan temuan kami selama TKFI,” ungkap Maman Wijaya, Ketua Pusbangfilm, pada pembukaan Rapat Koordinasi Komunitas Film. 


Selama rapat koordinasi berlangsung, para peserta berdiskusi tentang kegiatan komunitas mereka melalui tiga forum yang tersedia: Produksi, Ekshibisi dan Festival, serta Apresiasi dan Kajian. Dalam masing-masing forum dibicarakan capaian serta tantangan yang dihadapi komunitas film, baik dalam pelaksanaan program maupun dalam pengembangan komunitas secara berkelanjutan. Informasi dan wawasan yang beredar sepanjang forum dicatat oleh para pelaksana forum, untuk kemudian diolah menjadi strategi serta rekomendasi program untuk Pusbangfilm dan calon panitia TKFI berikutnya.

“Selama ini pengembangan perfilman Indonesia lebih banyak dilandaskan pada asumsi-asumsi. Tidak terkecuali dengan komunitas film. Sudah saatnya kita merumuskan dan mengarahkan perkembangan perfilman nasional berdasarkan data dan fakta.” jelas Adrian Jonathan Pasaribu, salah seorang panitia. “Melalui rapat koordinasi ini, kami berharap bisa secara presisi membaca perkembang komunitas film terkini. Tidak lagi hanya mengandalkan perkataan atau cerita orang lain.”

Berita Terkait