Merayakan Keberagaman Indonesia
Perfilman Indonesia

Dari Pencarian “nama perempuan Sumba” Hingga Berangkat ke Cannes

Berawal dari ide cerita yang ditawarkan oleh Garin Nugroho berjudul Perempuan, Mouly Surya tertarik untuk mengembangkannya. Ia membutuhkan sebuah nama perempuan sebagai pengganti judul awal. Karena minimnya pengetahuan akan Sumba, ia harus mengetik ‘nama perempuan Sumba’ di mesin pencari guna mencari judul yang tepat. Hingga akhirnya bertemu dengan nama Marlina, yang juga menjadi nama protagonis dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Film ketiga Mouly Surya tersebut lolos seleksi Quinzaine des réalisateurs (Directors’ Fortnight) yang berlangsung bersamaan dengan Festival Film Cannes 2017. Directors' Fortnight yang sudah ada semenjak tahun 1969 ini dibentuk oleh Société des Réalisateurs de Films (Asosiasi Sutradara Film Prancis). Agenda ini bertujuan untuk mendukung pembuat film dengan talenta baru ke hadapan khalayak umum dan para kritikus film pada perlehatan Festival Film Cannes. Dalam sejarahnya, Directors' Fortnight menemukan dan mengorbitkan banyak sutradara besar, seperti Werner Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Spike Lee, dan Sofia Coppola.

Ini merupakan capaian baru bagi Mouly. Fiksi (2008) sukses meraih beberapa Piala Citra pada 2008. Kemudian What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013) menjadi film Indonesia pertama yang masuk seleksi World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival.


“Terseleksi di festival ini, saya berharap bisa memberikan kesempatan kepada Marlina untuk mendapatkan distribusi yang lebih luas dari film-film saya sebelumnya. Sungguh sebuah kehormatan besar bisa berada di Directors’ Fortnight yang telah banyak menemukan auteurs dunia dan terkenal dengan karya yang lebih edgy. Sungguh sebuah panggung yang cocok untuk Marlina,“ tutur sutradara perempuan tersebut lewat keterangan pers.

Film ini juga mendapat dukungan finansial dari sejumlah pihak, diantaranya Cinémas du Monde dari Kementerian Luar Negeri Prancis. “Komite film Cinémas du Monde sepuluh-sepuluhnya sepakat saat membaca naskah. Ini merupakan hal yang jarang sekali terjadi," ujar Isabelle Glachant selaku produser film asal Prancis. Ia juga menambahkan bahwa film ini memiliki karakter yang kuat dari segi cerita maupun pemainnya. 

Kisah Marlina (Marsha Timothy), seorang janda yang mencari keadilan setelah rumahnya diserang segerombolan perampok, ditayangkan di berbagai kota seperti Marseille, Paris, Geneva, Roma, Milan, Florence, dan Brussels setelah diputar di Cannes. Film ini rencananya juga akan ditayangkan di bioskop tanah air pada Oktober 2017. (Julita Pratiwi)

Berita Terkait