Merayakan Keberagaman Indonesia
Program

FILM FORUM-FILARTC

Diskusi

“Sinema Nasional: Kebijakan Pemerintah dan Investasi Budaya”

Pembicara

Chirstophe Tardieu (President of CNC, France), Triawan Munaf (Kepala Bekraf), Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan), Shelia Timothy (Produser ), Alex Sihar (Badan Perfilman Indoensia). Moderator : Nirwan Dewanto

Waktu

Kamis, 30 Maret 2017 | 13:00 - 16:00

Tempat

Perum PFN

Jl. Otista Raya No.125-127, Kp. Melayu, Jatinegara, Jakarta 13330

Penyelenggara

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Di dalam era yang kini ‘serba bebas’, identitas ke-Indonesia-an kita terus-menerus ditantang oleh masuknya unsur-unsur kebudayaan dari luar melalui film. Kontestasi antara film nasional dan global menjadi semakin terbuka. Beberapa negara memberlakukan Kebijakan protektif  untuk melindungi kepentingan film nasionalnya, seperti Malaysia, India, China, Korea. Kebijakan yang dapat menjadi bumerang jika tidak disertai dengan peningkatan sumber daya perfilman di semua lini. 

Bagaimana dengan kita? Kebijakan seperti apakah yang dibutuhkan untuk  mengakselerasi kemajuan perfilman Nasional?


* * * * *

Diskusi

“Film Indonesia dalam Perspektif Lintas Bangsa”

Pembicara

Edwin (Sutradara), Hanung Bramantyo (Sutradara), Anggy Umbara (Sutradara), Riri Riza (Sutradara), Tito Imanda (Badan Perfilman Indonesia), Ahmad Mahendra (Kepala Subdirektorat Diplomasi Budaya Luar Negeri, Direktorat Warisan dan Budaya, Kemendikbud)  Moderator: Totot Indrarto

Waktu

Jumat, 31 Maret 2017 | 14:00 - 17:00

Tempat

Perum PFN

Jl. Otista Raya No.125-127, Kp. Melayu, Jatinegara, Jakarta 13330

Penyelenggara

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Pertumbuhan produksi film komersial dan jumlah penonton yang menonton film Indonesia dalam satu dekade terakhir ini sangat menggembirakan, namun film Indonesia, secara umum masih belum mampu menembus pasar regional dan internasional. Disisi yang lain, banyak film-seni karya anak bangsa yang melanglang buana dalam festival-festival Internasional. 

Seperti dua sisi dari mata uang, pada satu sisi, film komersial, dengan kewajiban untuk patuh pada faktor-faktor generik seperti genre, naratif dan bentuk-bentuk yang akrab untuk diterima oleh penonton luas, sementara film seni semestinyan menjadi laboratorium penemuan dan eksplorasi sinematik. Hampir di semua negara yang perfilmannya maju, ruang tumbuh film-seni (art house) dikelola sebagai satu bagian yang utuh. Bagaimana dengan di Indonesia?

* * * * *

Diskusi

“Perempuan di balik Layar Film Indonesia”

Pembicara

Titien Wattimena (Penulis Skenario), Nia Dinata (Produser dan Sutradara), Nan T. Achnas (Produser dan Sutradara), Amalia Trisna Sari (Sinematografer) Moderator: Lola Amaria

Waktu

Sabtu, 1 April 2017 | 14:00 - 17:00

Tempat

Perum PFN

Jl. Otista Raya No.125-127, Kp. Melayu, Jatinegara, Jakarta 13330

Penyelenggara

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Menurut riset dari Center for the Study of Women pada tahun 2016 di Amerika,  pekerja film perempuan yang memegang posisi kunci seperti eksekutif produser, produser, penulis skenario, sinematografer, sutradara, editor, dari 250 film hanya mencapai 17 persen dan sepanjang sejarah tidak pernah lebih dari 25 persen. Apakah hal tersebut yang menyebabkan dalam kebanyakan film, objektifikasi perempuan masih dominan? 

Pertanyaan serupa dapat kita ajukan bagi dunia film di Indonesia. Apakah dengan banyaknya pekerja film perempuan yang memegang posisi kunci di balik layar, perspektif film yang selama ini ibarat “bumi berputar dalam kacamata lelaki” dapat diseimbangkan?

Program Terkait